Cerita tentang Arti Sebuah Ketulusan

Disuatu desa hiduplah seorang petani miskin, bernama Amir dan istrinya Maisaroh. Mereka hidup disebuah gubuk tua diujung sebuah desa. Meski dalam keadaan miskin, istrinya yg selalu setia menemaninya. Pada suatu hari dia meminta ijin kapada istrinya untuk bertandang kerumah Guru nya, seorang Guru yg pernah mengajarkan banyak hal mengenai ilmu agama kepadanya.

Berkatalah laki2 itu kepada istri nya
“istriku, besok saya akan pergi kerumah tuan Guru, sudah sekian tahun saya belum pernah menjenguk nya, tolong siapkan aku oleh2 buat tuan Guru ya”.

Sang istri merenung sebentar, kemudian menjawab;
“kita tidak punya apa2 selain singkong ini, jika kamu mau bawalah itu untuk oleh2..”

Keesokan paginya sang suami berangkat dengan membawa dua pikul singkong untuk oleh2 buat sang Guru.

Sesampainya di rumah sang Guru, Amir menunjukkan oleh2 singkong itu sebagai buah tangan. Sang Guru sangat senang menerimanya. Mereka pun berbincang lama, hingga disuatu kesempatan sang Guru menanyakan;

“Amir, sudah sekian lama kita tidak bertemu, selama ini bagaimana keadaanmu dan istrimu?”

Sang Petani, tidak langsung menjawab. Ia tidak mungkin menceritakan keadaan hidupnya yang miskin. Buatnya sang Guru adalah seorang yang harus dimuliakan, bukan malah dibebani dengan memikirkan kondisi orang lain, apalagi dibebani dengan memikirkan keadaan dirinya.

“Alhamdulillah baik, hasil pertanian juga bagus. Singkong ini juga adalah hasil dari pertanian kami..” Jawab sang Petani kemudian dengan wajah tersenyum.

Meskipun mendengar jawaban demikian, sang Guru bijak bisa memahami keadaan sebenarnya si murid.

Setelah lama berbincang ahirnya Amir meminta ijin kapada sang Guru untuk kembali pulang. Tanpa diduga, sang Guru membawakan oleh2 dua ekor kambing sebagai ucapan terimakasih kepada murid nya itu, yang telah sudi menjenguk nya bahkan dengan ikhlas membawakannya oleh2 meskipun dalam kondisinya yang miskin. Sang Guru merasakan, keihklasan si Petani tercermin dari sikap dia yang tidak menceritakan apapun kondisinya dan tetap bersikap bahagia dihadapannya.

Si Petani sangat bahagia, begitu juga sesampainya dirumah istri nya bahagia sekali, setelah suami membawakan nya dua ekor kambing dan mengetahui bahwa itu adalah pemberian dari Sang Guru. Merekapun kemudian merawat kambing-kambing tersebut dengan penuh sukacita dan bahagia.

Hari berganti, berita si Petani yang memiliki dua ekor kambing cepat tersebar ke tetangga-tetangganya. Kabar itupun juga diterima oleh Rudi, teman satu perguruan dengan Amir. Rudi merasa tergelitik juga hatinya, pengen mengetahui bagaimana temannya tersebut bisa mendapatkan dua ekor kambing. Hingga kemudian Rudi langsung datang kerumahnya Amir dan menanyakan asal muasal bagaimana Amir bisa sampai mendapatkan dua ekor kambing itu.

Amir adalah seorang yang jujur, dan dengan polosnya dia menceritakan semuanya kepada Rudi.

Sifat serakah Rudipun muncul. Sebuah ide muncul dalam benaknya. “Kalo si Amir, hanya dengan membawa dua pikul singkong oleh sang Guru diberikan ganti dua ekor kambing, bagaimana jikalau ia membawa dua ekor kambing? niscaya dia nanti akan digantikan dua ekor sapi, atau 2 kilo emas”.. fikir Rudi.

Rudi pun mengambil semua uang ditabungannya dan menjual beberapa barang yang dimiliknya untuk bisa membeli dua ekor kambing. Dan, keesokan harinya Rudi pun bertandang kerumah sang Guru dengan membawa dua ekor kambing. Sang Guru sangat bahagia sekali dibawakan oleh2 dua ekor kambing, dan setelah lama berbincang sang Guru bijak menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan kedatangan si Rudi. Setiap cerita yang menyangkut kehidupannya, Rudi selalu mengeluh dan menumpahkan semua kekesalannya akan hidup yang dijalaninya. Tujuannya, agar sang Guru semakin bersimpati kepadanya sehingga memberikan lebih banyak hadiah dari apa yang dia harapkan.

Mendengar semua cerita Rudi, sang Guru hanya diam dan tidak berbicara sedikitpun, hingga akhirnya membuat Rudi bosan sendiri dan meminta ijin pulang.

Meski merasa ada yang tidak beres dengan kedatangan Rudi, sang Guru tetap ingin berterimakasih karena Rudi telah membawakannya oleh2 dua ekor kambing. Namun, sang Guru merasa sudah tidak punya apa2 lagi yang pantas diberikan.

Akhirnya, sang Guru teringat dengan oleh2 yang dibawakan oleh Amir, dan tanpa bermaksud apapun dua pikul singkong yang sebelumnya diberikan Amir kepadanya, dia kasihkan kepada si Rudi.

Dengan sangat terpaksa, akhirnya Rudi menerima dan pulang dengan perasaan kecewa. Semua terjadi ternyata tidak seperti yang diharapkannya. Sifat serakah dan ketidakikhlasannya akhirnya berujung kekecewaan.

Sahabat..
Jikalau kita melakukan sesuatu dengan tulus dan lapang dada dan tidak mengharap imbalan suatu apapun, yakinlah suatu hari nanti ilahi akan membalasnya dengan yang lebih dari yang kita berikan. Berikan apa yg sanggup kita berikan meskipun itu kecil nilainya, karena sesuatu yg berharga sekalipun belum tentu bernilai bagi orang lain, bila tidak didasari dengan lapang dada.