Kecerdasan dan IQ Anak

Sudah menjadi pemahaman umum di masyarakat kita, kalau anak yang cerdas berarti memiliki IQ tinggi, sedangkan anak yang memiliki IQ rendah berarti tidak cerdas, atau bodoh. Benarkah demikian?

Apa sebenarnya IQ itu ?

IQ adalah nilai yang diperoleh dari sebuah alat tes kecerdasan. Berarti, IQ hanya memberikan sedikit indikasi mengenai taraf kecerdasan seseorang dan tidak menggambarkan kecerdasan secara keseluruhan.

Skor IQ awalnya diperhitungkan dengan cara membandingkan umur mental (Mental Age) dengan umur kronologik (Chronological Age). Bila kemampuan seseorang dalam memecahkan suatu persoalan yang disampaikan dalam tes
kecerdasan (umur mental) tersebut, sama dengan nilai kemampuan yang seharusnya ada, pada orang seumuran dia pada saat itu (umur kronologis), maka akan diperoleh skor 1. Nilai ini kemudian dikalikan 100 dan dipakai sebagai dasar perhitungan IQ.

Namun menjadi masalah, karena setelah otak mencapai kemasakan, tidak terjadi perkembangan lagi, bahkan pada titik tertentu akan terjadi penurunan kemampuan.

Sejarah Pengukuran Inteligensi

Pada tahun 1904, Binet dan Theodor Simon, 2 orang psikolog asal Perancis merancang suatu alat evaluasi yang dapat dipakai untuk mengidentifikasi para siswa yang memerlukan kelas-kelas khusus (anak-anak yang kurang pandai). Alat tes itu dinamakan Tes Binet-Simon. Tes ini kemudian direvisi pada tahun 1911.

Pada tahun 1916, seorang psikolog dari Amerika bernama Lewis Terman, mengadakan banyak perbaikan dari tes Binet-Simon. Diantaranya adalah menetapkan indeks numerik yang menyatakan kecerdasan sebagai rasio (perbandingan) antara age dan age . Hasil perbaikan ini disebut Tes Stanford Binet.

Indeks seperti ini sebenarnya telah diperkenalkan oleh seorang psikolog Jerman yang bernama William Stern,
yang dikenal dengan IQ atau IQ. Tes StanfordBinet ini banyak digunakan untuk mengukur kecerdasan anak-anak sampai usia 13 tahun. Diantaranya reaksi terhadap tes Binet-Simon atau tes Stanford-Binet adalah bahwa tes itu terlalu umum.

Salah seorang ahli dalam bidang ini, Charles Sperrman mengemukakan bahwa inteligensi tidak hanya terdiri dari satu faktor yang umum saja (general factor), tapi juga terdiri dari faktor-faktor yang lebih spesifik. Teori ini kemudian disebut Teori Faktor (Factor Theory of Intelligence). Dan alat tes yang dikembangkan menurut teori faktor ini adalah WAIS (Wechsler intelligence quotient Scale) untuk orang dewasa, dan WISC (Wechsler Intelligence Scale for Children) untuk anak-anak.

Kemudian banyak dikembangkan alat tes dengan tujuan yang lebih spesifik, sesuai dengan tujuan dan kultur di mana alat tes tersebut dibuat.

Inteligensi adalah sebuah konsep tentang kemampuan umum individu menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Dalam kemampuan yang umum ini, terdapat kemampuan-kemampuan yang amat spesifik. Kemampuan-kemampuan yang spesifik ini memberikan pada individu suatu kondisi yang memungkinkan tercapainya pengetahuan, kecakapan, atau ketrampilan tertentu setelah melalui suatu latihan. Inilah yang disebut Bakat atau Aptitude. Karena suatu tes inteligensi tidak dirancang untuk menyingkap kemampuan-kemampuan khusus ini, maka bakat tidak dapat segera diketahui lewat tes inteligensi.

Alat yang digunakan untuk menyingkap kemampuan khusus ini disebut Aptitude Test. Tes bakat yang dirancang untuk mengungkap prestasi belajar pada bidang tertentu dinamakan Scholastic Aptitude Test dan yang dipakai di bidang pekerjaan adalah Vocational Aptitude Test dan Interest Inventory. Contoh dari Scholastic Aptitude Test adalah tes Potensi Akademik (TPA) dan Graduate Record Examination (GRE). Sedangkan contoh dari Vocational Aptitude Test atau Interest Inventory adalah Differential Aptitude Test (DAT) dan Kuder Occupational Interest Survey. Inteligensi dan Kreativitas

Yang perlu disadari, semua tes diatas sangat terbatas kemampuannya dan relatif. Tes-tes di atas hanyalah buatan orang per orang yang tentu saja memiliki banyak kekurangan. Kita tidak bisa memastikan apakah anak kita cerdas atau bodoh hanya berpedoman dengan tes di atas, termasuk tes IQ. Apalagi kalau kita telah memahami begitu kompleksnya kecerdasan seorang manusia.

Bukti dari tidak mutlaknya fungsi tes di atas dalam menentukan kecerdasan anak, salah satunya adalah sebagai berikut :

Kreativitas merupakan salah satu ciri dari perilaku yang inteligen karena kreativitas juga merupakan manifestasi dari suatu proses kognitif. Meskipun demikian, hubungan antara kreativitas dan inteligensi tidak selalu menunjukkan bukti-bukti yang memuaskan. Walau ada anggapan bahwa kreativitas mempunyai hubungan yang bersifat kurva linear dengan inteligensi, tapi bukti-bukti yang diperoleh dari berbagai penelitian tidak mendukung hal itu. Skor IQ yang rendah memang diikuti oleh tingkat kreativitas yang rendah pula. Namun semakin tinggi skor IQ, tidak selalu diikuti tingkat kreativitas yang tinggi pula. Sampai pada skor IQ tertentu, masih terdapat korelasi yang cukup berarti. Tetapi lebih tinggi lagi, ternyata tidak ditemukan adanya hubungan antara IQ dengan tingkat kreativitas.

Seorang ahli, J. P. Guilford menjelaskan bahwa kreativitas adalah suatu proses berpikir yang bersifat divergen, yaitu kemampuan untuk memberikan berbagai alternatif jawaban berdasarkan informasi yang diberikan. Sebaliknya, tes inteligensi hanya dirancang untuk mengukur proses berpikir yang bersifat konvergen, yaitu kemampuan untuk memberikan satu jawaban atau kesimpulan yang logis berdasarkan informasi yang diberikan. Ini merupakan akibat dari pola pendidikan tradisional yang memang kurang memperhatikan pengembangan proses berpikir divergen walau kemampuan ini terbukti sangat berperan dalam berbagai kemajuan yang dicapai oleh ilmu pengetahuan.

Setelah meneliti berbagai jenis kemampuan, kompetensi, dan ketrampilan yang digunakan di seluruh dunia, Dr. Gardner akhirnya menyusun delapan kecerdasan dasar.

Delapan kecerdasan dasar tersebut antara lain :

– Kecerdasan Linguistik
– Kecerdasan Logis – Matematis
– Kecerdasan Spasial
– Kecerdasan Kinestetik
– Kecerdasan Musikal
– Kecerdasan Antar Pribadi
– Kecerdasan Intrapribadi
– Kecerdasan Naturalis

Seringkali di berita menyebutkan, bahwa jumlah sarjana yang menganggur ada ribuan dan setiap tahunnya terus bertambah. Pertanyaan yang mungkin muncul di benak kita adalah; ”Apakah IQ mereka rendah???”.
Jawabanya tentu saja tidak. Buktinya mereka bisa lulus perguruan tinggi. Berarti mereka ber-IQ di atas rata-rata. Jika demikian, mereka adalah orang yang “cerdas” bagi kebanyakan orang.

Lantas, jika ia cerdas, mengapa ia tidak mendapatkan pekerjaan atau menciptakan lapangan kerja sendiri ?. Apakah kecerdasan yang dimiliki tidak sanggup mengatasi hal itu ? Mengapa tidak bisa ?

Untuk memahami masalah di atas, Jika kita menggunakan teori Dr. Gardner menjadi lebih mudah. Sarjana yang menganggur tersebut sebenarnya cerdas di bangku kuliah. Namun saat menghadapi problem finansial, kecerdasan dibangku kuliah tidak memberikan banyak manfaat kepadanya. Sehingga mencari kerja atau memulai bisnisnya sendiri tidak bisa, dan akhirnya hanya menjadi pengangguran.

Dan memang kenyataannya, kecerdasan yang diperlukan untuk mengatasi masalah dibangku kuliah dengan kecerdasan yang diperlukan untuk mengatasi masalah finansial, itu sangatlah berbeda.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.